Saya baru aja nonton film “Seducing Mr.Perfect”. By the way, pemeran utamanya cakep banget! karakter dan jalan cerita yang dihadapi oleh pemeran utama wanita benar – benar membuat saya serasa berkaca. Saya tahu betul apa yang dirasakan oleh si pemeran wanita. Oke..moral cerita dari film ini adalah dalam permainan yang disebut ‘Cinta’, tidak ada yang bisa disebut sebagai ‘pemenang’…karena either way, orang2 yang menjalani permainan tersebut (sooner or later) pasti akan merasakan kekalahan.

Tapi mungkin inilah takdir (atau nasib?) yang mungkin dihadapi oleh wanita2 jakarta. Or at least yang dihadapi oleh saya dan 2 teman wanita saya (chill, girls….your names shall be known as anonymous). Kami menyebut diri kami “Geng GaNing” alias Geng Gagal Maning.. dimana tak satupun dari kami yang bisa disebut sukses dalam hal menjalin hubungan serius dengan kaum adam.

Padahal dalam pergaulan sehari2, kami bisa dibilang sukses! ohoho..bukan maksud saya untuk membanggakan diri, tapi kami bertiga nggak kuper2 amat, nggak jelek2 amat dan teman laki2 kami juga banyak yang (cukup bisa dibilang) menarik.  And me? Well, let me put it this way…. I’m flirtacious. Saya mencintai olahraga yang disebut ‘Flirting’ .

Tapi…..se-exist-nya saya (dan kedua teman saya itu) When it comes to L-O-V-E, we can become really stupid! Misalnya: Saya. Di 2 minggu pertama saya berpacaran, saya mulai membawakannya sarapan, menelponnya setiap pagi untuk menanyakan kabarnya, menunggunya makan siang padahal perut saya sudah keroncongan,  bahkan berciuman di tangga darurat (dan kepergok teman kantor saya pula..OMG!)How silly is that?!! Dalam hubungan kami yang begitu singkat, saya terus yang ‘berusaha’…yang terus memberi, yang terus berusaha untuk membuat impress pacar saya..Ups, maksud saya mantan pacar. Dan dia sendiri? he played it cool..mungkin itulah pria. Dan mungkin itulah ‘kesalahan favorit’ wanita: Telalu memberi, terlalu tulus, terlalu baik, teralu ingin merubah pacar menjadi Sang-Ksatria-Idaman. But is that really a mistake? bukankah itu keindahan dari sebuah relationship? Ketulusan di tengah dunia penuh manipulator? (Oke…saya udah mulai hiperbolis neey).

Saya pernah mencoba untuk menjadi salah satu manipulator atas perasaan saya sendiri. I played it cool and tough meskipun dalam hati..saya masih tetap mengingat kenangan2 indah saya bersama dengan mantan. saya berpura2 cuek, meskipun saya ingin memberikan perhatian kepada pria yang memberikan perhatian kepada saya… Hasilnya? Saya jadi capek sendiri…. That’s Not Me! Manipulasi yang saya lakukan tidak berhasil. But I survived though…dengan tetap menjadi diri sendiri tetapi dilengkapi dengan ‘pelajaran2 patah hati’ yang saya dapat pengalaman saya sendiri.

dari film tersebut ada satu quote yang benar2 harus dimasukkan dalam catatan untuk saya: ” what if in manipulating people, we lose the pleasure of an honest conversation? why use manipulation if we can’t discover one’s true feelings?”

Manipulation can be fun and daring…but it won’t take us to true happiness.

Tangga darurat. Bukan tempat untuk pacaran. Tapi itu tidak tertulis di peraturan perusahaan bukan? dan jika memang tertulis…. aren’t rules ment to be broken? ehehehe….